Becoming the Joyful, Beautiful, Infinite Woman…
“It’s not easy being green,” seperti yang dikatakan oleh Kermit the Frog dari The Muppets. Bagi wanita Indonesia sama hal-nya. Tidak mudah menjadi wanita, terutama di Indonesia. Menyeimbangkan antara kehidupan pribadi, karir, keluarga kecil, keluarga besar, teman-teman, kesehatan, kecantikan dan kemudian norma-norma, stigma dan ekspektasi menjadi suatu keahlian yang harus di-master oleh wanita-wanita modern Indonesia. Belum lagi PMS yang datang setiap bulannya
Our culture is still stuck in the past. Apa yang bisa kita katakan tentang budaya Indonesia ketika di tahun 2010 ini masih banyak yang menganggap sosok wanita yang ‘terpuji’ adalah mereka yang menikah, memiliki anak dan berbakti pada suami? Dimana yang ‘cantik’ (beautiful) adalah yang berkulit putih, langsing dan berambut panjang.
Life has become a cyclic battle with expectations. Dikelilingi keluarga dan society yang senantiasa menentukan bagaimana wanita sebaiknya bertindak dan berperilaku (how to be and how to behave), wanita pun mudah untuk tenggelam dalam ekspektasi – menjadikannya bingung, lelah, sinis dan apatis. Belum lagi segala macam ekspektasi yang kita berikan ke diri kita sendiri. Ekspektasi yang itu dan itu lagi.
The choice is still in our hands. Mau mengikuti apa kata orang atau apa kata hati? Berani menjadi diri sendiri atau menjadi orang yang diinginkan orang lain? Melawan arus atau mengikuti norma? Berani berpikir sebagai individu atau mendengarkan opini orang banyak? Mau bahagia atau terus mencari kebahagiaan di tempat-tempat yang salah? Apakah kita memiliki keberanian untuk menjadi the women we are meant to be?
Happiness is a choice. Sayangnya, kebanyakan orang lebih memilih menderita (misery) dibandingkan mengambil resiko untuk benar-benar bahagia. Banyak wanita masing menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain ataupun situasi-situasi tertentu, mengatakan “saya akan bahagia bila…” – belum menyadari bahwa kebahagiaan itu adalah tanggung jawab diri kita sendiri.
Women are too busy taking care of other people, when do we take care of ourselves? Begitu terjebaknya dalam peran seorang ibu, istri, kakak, manajer, teman dan lain-lain, sering kita lupa meluangkan waktu untuk diri kita sendiri – melakukan hal-hal yang bukan merupakan tanggung jawab. Sejak kapan hidup telah menjadi daftar peran dan tanggung jawab?
Becoming the joyful, beautiful and infinite women. Bagaimanapun juga, hidup sebagai wanita akan selalu dikelilingi oleh peran, tanggung jawab, ekspektasi dan stress. Pertanyaannya, bagaimana kita tetap bisa menjadi wanita yang penuh kegembiraan, menikmati hidup, menghargai berbagai pengalaman yang dialami dan terus tumbuh dari pengalaman itu sendiri? Bagaimana menjadi wanita yang mencintai dirinya sendiri dan kehidupannya, memiliki keanggunan, menjadi contoh keberanian juga kasih dan membawa perbedaan sehingga kita bisa menjadi inspirasi bagi satu sama lain?
Being a woman is a gift. Selama kita bisa menyadari potensi, kecantikan dan berbagai kekuatan dari diri kita sendiri, baik sebagai manusia maupun sebagai wanita, yang perlu kita lakukan hanya membungkus diri kita dengan pita cantik (atau mengenakan 5-inch colourful stilettos) dan present ourselves to the world. Menjadi wanita itu adalah sebuah hadiah/bakat, sehingga tugas kita hanya mengasah bakat tersebut kok.
Making the impossible possible. Tidak ada perasaan yang lebih menyenangkan daripada diremehkan, karena disitu ada kesempatan untuk rise above the expectations. Ketika wanita pun bisa mengandung dan melahirkan bayi – yang sebenarnya adalah keajaiban (miracles) – saya yakin wanita pun bisa melakukan lebih banyak keajaiban lainnya.
While people say blonds have the most fun, being a woman is so much FUN! Terutama kalau wanita sudah menyadari their power of seduction.. oops, I mean, persuasion for the better world
Karena wanita yang tercantik adalah wanita yang bahagia!
gaccisparlign says:
Tuesday, January 25, 2011 at 10:34am
Terima kasih untuk blog yang menarik